lalangit

Model Bisnis Sosial, Ide Sang Peraih Nobel

In Rentangan on 19 Agustus 2009 at 2:04 pm

Muhammad Yunus Tahun 2006, Muhammad Yunus asal Bangladesh meraih nobel perdamaian. Agak menarik untuk disimak, sebab kiprah sang profesor sendiri lebih terfokus ke ranah pengentasan kemiskinan melalui kredit mikro tak lazim yang digagasnya. Belasan tahun beliau berjuang membantu orang-orang papa di Bangladesh melalui pinjaman modal yang disalurkan lewat lembaga yang didirikannya, Grameen Bank, tanpa agunan, tanpa batasan kriteria peminjam yang macam-macam, tanpa melalui administrasi yang rumit, cukup kepercayaan dengan berjabat tangan. Gilanya lagi, Muhammad Yunus menciptakan kredit untuk para pengemis tanpa ada batas waktu pengembalian pinjaman. Lalu adakah hubungan kiprah beliau dengan nobel perdamaian yang diterimanya?

Kemiskinan sangat rentan dan dekat dengan tindak kekerasan. Kemiskinan bukanlah warisan nasib dan setiap orang tidak mau menerima keadaan ini – kalau mereka diminta memilih. Kemiskinan ada sebab kesalahan kita dalam memodelkan sistem ekonomi yang kita anut. Mereka yang miskin ialah mereka yang terpinggirkan dari sistem keuangan dan putaran ekonomi global, dianggap tidak layak ikut dalam putaran roda. Ketidakadilan ini yang dapat memicu tindak kekerasan dari mereka yang terpinggirkan. Hak mereka untuk merdeka hidup layak dan beraktualisasi secara ekonomi terpasung. Dari sinilah bibit kekerasan bersemai. Jadi sudah lebih jelas bukan benang merahnya.

Pertanyaan selanjutnya pun bergulir. Bagaimana cara mengikutsertakan kaum papa dalam putaran roda ekonomi global, membuat mereka keluar dari kemiskinan? Prof. Yunus menawarkan kredit mikro. Mengapa kredit, bukan hibah atau bantuan? Begini latar belakangnya. Perlu diakui bahwa ekonomi pasar mampu menciptakan sistem yang efisien berdasarkan insentif. Efisiensi inilah yang setidaknya ingin dicapai pula supaya program pengentasan kemiskinan berhasil. Penilaian beliau, orang miskin menjadi miskin bukannya malas, mereka pekerja keras, hanya saja kurang beruntung tidak ‘terbawa’ arus putaran sistem keuangan sekarang. Kredit mikro akan menjadi pemantik api kreativitas mereka dalam berkarya. Insentif kreativitas inilah yang akan membawa mereka keluar dari kemiskinan, sekaligus program pengentasan kemiskinan menjadi bisa bergulir terus sebab dijalankan atas pijakan efisiensi pemberian kredit mikro – ada kontrol dari dua sisi: penerima kredit dan pemberi kredit.

Baiklah, kita anggap program kredit mikro yang kita jalankan ampuh sebagai sarana pengentasan kemiskinan? Pertanyaan selanjutnya, Institusi seperti apa yang harus menjalankan program-program seperti ini secara efisien? Pemerintah, LSM, organisasi nirlaba, yayasan? Prof. Yunus mengatakan institusi bisnis sosial.

Institusi bisnis sosial merupakan struktur perusahaan yang sama dengan sepupunya, perusahaan pencari laba sebesar-besarnya dalam sistem ekonomi pasar. Hanya saja misi yang dianut bukan mencari laba sebesar-besarnya, akan tetapi memberi kemanfaatan sosial sebesar-besarnya. Aneh? Penulis pikir tidak aneh. Bagaimana bisa tidak mencari laba sebesar-besarnya, apa bisa hidup, apa tidak diumpat oleh pemegang saham? Ada syarat tentunya untuk model bisnis sosial.

Bisnis sosial sama dengan bisnis biasa, perusahaan komersial yang mencari keuntungan untuk hidup berkelanjutan, bukan institusi nirlaba. Bedanya, perusahaan bisnis sosial dinilai kinerjanya berdasarkan angka-angka sosial, alih-alih angka-angka keuangan konvensional. Misalnya, perusahaan bisnis sosial yang bergerak di bidang penyediaan susu bagi orang miskin, maka tolok keberhasilan perusahaan ini ialah berapa jumlah penduduk miskin yang telah mengonsumsi susu produksinya, apakah ada peningkatan jumlah pemasok bahan baku susu dari pemasok lokal – para penduduk miskin pemilik sapi yang dibiayai dengan kredit mikro – dan kriteria sosial lain.

Mengapa harus ada laba yang masih dicari? Justru laba merupakan insentif, supaya institusi yang mempunyai misi pengentasan kemiskinan menjadi efisien. Laba dalam bisnis sosial dipakai kembali untuk diputar guna keperluan ekspansi, dan tidak ada pembagian deviden. Semuanya murni untuk membentuk inner circle ekspansi perusahaan bisnis sosial. Dengan model seperti ini, perusahaan bisnis sosial akan mandiri, tidak perlu naik turun seperti lembaga nirlaba dengan program-programnya naik turun juga akibat ketergantungan pada dana donor. Perusahaan bisnis sosial akan menjalankan manajemen secara profesional, menggaji staf sesuai dengan pasar dan menerapkan strategi-strategi perusahaan untuk berkembang.

Bisnis sosial juga merupakan jawaban atas dilema perusahaan komersial konvensional yang memiliki program CSR. Bagaimana pun juga misi perusahaan komersial ialah mencari laba sebesar-besarnya, sesuai amanat pemegang saham. Ketika dihadapkan pilihan apakah mencari laba sebesar-besarnya atau melanjutkan program CSR, manajemen tentu akan memenuhi target labanya terlebih dahulu, alih-alih program CSR-nya dituntaskan. Memang tidak bisa disalahkan, sebab model bisnis yang dipilih perusahaannya memang demikian. Maka wajar, bila sering CSR untuk program tertentu tidak berkelanjutan, hanya event semata dan sering dijadikan sarana ‘make up’ bagi perusahaan komersial. Dilema demikian tidak akan pernah terjadi pada perusahaan bisnis sosial, sebab keuntungan berfungsi sebagai akselerator atau insentif, bukan misi perusahaan yang dituntut oleh pemegang saham.

Dengan paduan kredit mikro dan model bisnis sosial, Prof. Yunus yakin bahwa kemiskinan sudah sepantasnya dimasukkan dalam museum, sehingga generasi mendatang hanya bisa menyaksikannya di sana. Kita semua bergerak untuk mewujudkan hal ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: