lalangit

Resensi Dreams from My Father

In Kompetisi, Rentangan on 11 Agustus 2009 at 12:18 am

image

Buku tulisan Presiden Amerika Serikat ini bertutur mengenai harapan, cita-cita, dan persaudaraan. Obama berkisah tentang kekuatan impian. Buku bestseller versi New York Times serta peraih British Book Award 2009 untuk kategori Biografi Terbaik – terjemahan Indonesia diterbitkan oleh penerbit Mizan – memaparkan pergulatan hidup sang presiden bahkan sejak sebelum menjadi senator.

Diterbitan tahun 1995 dengan judul asli Dream from My Father: A Story of Race and Inheritance, buku setebal 493 halaman ini memang menampilkan kisah-kisah perjalanan hidup Obama. Bermula dari seorang ayah bernama Barack Hussein Obama Sr, seorang pria kulit hitam asal Kenya dan seorang ibu bernama Shirley Ann Dunham yang asli Amerika, alur cerita pun mengalir: penuturan asal-usul, masa kanak-kanak di Hawaii, kemudian pindah ke Jakarta, akhirnya kuliah di Universitas Columbia Manhattan New York bidang studi ilmu politik. Diceritakan pula, perjalanan Barry – sapaan akrab Obama – mencari akar budayanya ke Kenya Afrika, di tengah kerabatnya yang muslim. Ada perlu apa ia ke sana?

Terdapat rentang masa saat Barry mengaku sempat kehilangan jati diri. Ia marah dan begitu frustasi melihat perlakuan diskrimasi yang menimpa orang-orang kulit hitam Amerika. Disebabkan selalu teringat ibunya yang tergolong ras white, Barry tak kuasa menumpahkan amarahnya itu. Akibatnya, Barry sempat putus asa, hidup pun jauh dari semangat, sampai akrab dengan minuman beralkohol dan kebiasaan madat. Beruntung kondisi ini tak berlangsung lama. Barry bangkit, merengkuh semangat persaudaraan lintas warna kulit, penyatu ayah dan ibunya. Ia menemukan kembali impian warisan ayahnya.

Ayahnya dulu ialah seorang anak miskin dari desa terpencil di Kenya. Tak pantang menyerah, sang ayah mengejar ilmu sampai ke Negeri Paman Sam. Banyak impian Obama Sr belum tercapai hingga maut merenggut hidupnya, sebuah kecelakaan mobil di tahun 1982. Barry menyatakan rasa sayang dan bangga terhadapnya. Meski bercerai tahun 1963 dari ibunya – saat itu Barry baru berusia dua tahun, selanjutnya diasuh dan dibesarkan oleh ibunya –, akan tetapi hubungan dengan sang ayah dan keluarga besarnya tak pernah terputus. Dari sini Barry mengenal ayahnya lebih dalam serta impian-impiannya yang terurai rinci dalam buku ini. Barry pun mengikuti jejak sang ayah, menjadi aktivis, satu-satunya senator dari kalangan kulit hitam, hingga berhasil terpilih menjadi presiden Amerika Serikat.

Menarik untuk disimak, Obama menuliskan bagian khusus mengenai Indonesia. Setelah perceraiannya, sang ibu menikah dengan Lolo Soetoro, seorang mahasiswa East-West Center dari Indonesia. Keluarganya pun pindah ke Jakarta. Ia pun akhirnya melakoni hidupnya sebagai ‘anak menteng’ sebagaimana paparan ini terkisah di halaman 50-77 pada bagian ‘Indonesia’.

Sungguh sebuah biografi yang menarik. Selain berisi cerita kehidupan Obama, buku ini mencakup pula refleksi pengalaman pribadinya mengenai ras dan persaudaraan di Amerika Serikat. Ceritanya amat inspiratif menjadikan tulisan sang presiden fenomenal ini direkomendasikan untuk dibaca, melengkapi buku-buku tentang Obama lain yang sudah diterbitkan di Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: