lalangit

Facebook Sebagai Media CIF Perbankan Syariah, Berani?

In Kompetisi, Rentangan on 2 Agustus 2009 at 3:10 pm

Pakemnya, masing-masing bank mengelola data customer information file (CIF) di infrastruktur miliknya sendiri. Bank – bank syariah juga – mengelola data tersebut untuk kebutuhannya sendiri, kecuali ada peraturan yang mengharuskan institusi bank harus saling sharing macam DH (Daftar Hitam) nasabah.  Daftar tersebut memuat nasabah-nasabah pembiayaan yang melakukan tindakan buruk terhadap pembiayaan yang diterimanya. Selain data itu, bank praktis mengolah data CIF untuk keperluan ekspansinya masing-masing.

CIF dapat ditelaah dari dua sisi: sisi koleksi dan sisi olah data. Sisi Koleksi CIF mencakup tindakan ekspansi untuk menjaring nasabah baru lewat program-program yang dijalankan oleh bank, tergantung jenis nasabah yang ingin dituju. Nasabah pembiayaan biasanya didekati oleh petugas bank bagian marketing dengan menjalankan program pemasaran umum atau lewat koneksi pribadi, sedangkan nasabah peyimpan dana lebih sering ditawari dengan promo-promo berupa bonus atau program menarik lainnya. Keduanya dilakukan secara offline, maksudnya didekati di dunia riil secara langsung. Sisi olah data CIF berkaitan dengan kapasitas dan kemampuan minning data CIF. Data yang semakin membesar membutuhkan infrastruktur yang semakin mahal juga, sebagai sarana penyimpan dan minning data. Untuk bank-bank besar dengan modal kuat hal ini bukan masalah, akan menjadi beda bila bank memiliki anggaran yang terbatas. Padahal untuk menyusun program-program ekspansi, bank membutuhkan landasan hasil olah data CIF salah satunya. Adakah cara breaktrough yang dapat dipakai supaya ekspansi tetap ‘berdengung’ dengan landasan data yang mantap, namun infrastruktur CIF yang minimalis?

Tengoklah facebook dan bayangkan peluangnya. Facebook merupakan self updated source data. Bila dijadikan sumber CIF, bank syariah tidak perlu terlalu repot untuk urusan perbaruan data. Lain dengan umumnya model CIF perbankan, facebook memperlihatkan koneksi antar data yang lebih luas selain hubungan keluarga. Model data seperti ini sangat mempermudah petugas marketing bank untuk berekspansi memperkenalkan promo-promo bank dengan well targeted and segmented.

Kenapa facebook? Penulis memilih facebook sebab situs jejaring sosial ini sekarang ini posisinya menjadi leader di dunia maya dengan data pengguna mencapai 150 juta melebihi myspace. Kedua, facebook lebih banyak diakses oleh pemakai Indonesia. Lho khan ada twitter? Twitter juga banyak pemakainya di sini, hanya saja menurut penulis model aplikasi twitter terlalu sederhana untuk bisa dijadikan sebagai source CIF perbankan syariah. Jadi, alasan ketiga ialah eksploitasi yang dapat dilakukan terhadap model aplikasi facebook lebih kaya, peluang-peluang inovasinya lebih menjanjikan.

Wah, berbahaya bila data pemakainya palsu! Tenang, verifikasi data pemakai tetap diperlukan, khan ada Notaris.

Ambil contoh peran yang dimainkan oleh  lembaga VeriSign di dunia maya. Lembaga ini berfungsi memverifikasi dan memastikan bahwa entitas online sama dengan entitas offline-nya – merujuk pada badan hukum yang sama, bisa orang atau lembaga. Nah, peran ini yang harusnya bisa dilakukan oleh notaris yang sudah bertebaran dimana-mana. Bank bisa bekerjasama dengan notaris yang ditunjuk untuk mengambil peran sebagai verification counter terhadap nasabah yang ingin account facebooknya diaggap laik sebagai CIF bank syariah. Layaknya prosedur untuk mendirikan badan hukum berupa lembaga, data-data nasabah pun diminta saat verifikasi disesuaikan dengan kebutuhan bank syariah. Data tersebut selanjutnya harus dicantumkan pada halaman facebook nasabah dan dibubuhi semacam sign dari Verisign yang menyatakan telah terverifikasi. Pun bila ada perubahan data, misalnya pindah alamat, maka nasabah pemilik account facebook pun harus memberitahukan dan memverifikasi ulang di hadapan notaris, persis seperti bila ada perubahan data pada hukum berbentuk lembaga. Dengan demikian, data facebook nasabah menjadi valid sebagai CIF bank syariah.

Peluang ini amat berani memang. Akan tetapi bila hal ini terwujud akan memberikan banyak manfaat berupa penghematan dan sumber data dinamis untuk keperluan ekspansi yang luar biasa melimpah bagi perbankan syariah. Berani mengambil peluang ini?


haryo indrasmoro signature

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: