lalangit

Budaya Kartu, Perbankan Syariah, dan Ekonomi Nasional

In Kompetisi, Rentangan on 27 Juli 2009 at 9:08 pm

Kita semua tahu, pada masa sekarang kartu menjadi trend tersendiri di masyarakat. Siapa yang punya ‘rentengan’ kartu paling banyak, dialah yang paling stylish, persis dengan demam gaya hidup kepemilikan smartphone paling mutakhir. Mulai dari kartu kredit, kartu debit, kartu diskon supermarket, kartu belanja, kartu keanggotaan klub, kartu asuransi, kartu klinik kesehatan, kartu parkir, sampai dengan kartu keluarga, kartu nikah, kartu tanda penduduk (kartu kavling pemakaman?) menjadi koleksi khalayak awam. “Biar trendi”, kata orang-orang. Namun dibalik fenomena ini, terselip peluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional terutama sektor riil. Bagaimana ceritanya? Uraiannya seperti ini.

Mulai tahun ini sampai beberapa tahun mendatang, ekonomi dunia melesu akibat babak belurnya sektor finansial global. Efeknya, kegiatan ekspor menurun bahkan boleh dikatakan nol untuk beberapa negara. Ujungnya, sektor produksi untuk barang ekspor menjadi terpukul dan berhenti beraktivitas, salah-salah gulung tikar karena bangkrut. Akhirnya, hal yang menjadi pelarian penyelamatan dan pancingan awal roda ekonomi negara supaya berputar tertuju pada konsumsi masyarakat dan produksi untuk dalam negeri (terkait dengan konsumsi masyarakat dalam negeri). Tahu tidak, bahwa sektor ini – konsumsi – ialah saudara kandung dengan masalah ‘perkartuan’. Ingin ekonomi nasional membaik, semarakkan budaya kartu. Lho kok? Coba kita renungkan sektor konsumsi terkait dengan budaya belanja masyarakat. Makin kencang berbelanja makin kencang pula konsumsi melaju. Percepatan ini bisa difasilitasi oleh infrastruktur yang dimiliki perbankan syariah.

Bayangkan ada tiga aktor dengan peran berbeda yang saling bahu-membahu membentuk simbiosis mutualisme ini. Pemeran dalam skenario ini, pertama nasabah perbankan selaku pemegang kartu debit atau kredit misalnya, yang terdorong untuk berbelanja. Kedua, para nasabah pembiayaan perbankan syariah yang mendapat kredit untuk usaha retail konsumsi (para pedagang ceritanya). Peran ketiga berada di tangan perbankan syariah sendiri yang berhubungan langsung dengan kedua tipe nasabah tersebut. Bila koneksitas dan interaksi antara tiga entitas ini tinggi, makin cepat berkembang arus ekonomi. Singkatnya, nasabah pemegang kartu berbelanja di toko retail nasabah pembiayaan perbankan syariah, nasabah pembiayaan laris dagangannya, pengembalian kredit pun lancar, bank syariah pemberi kredit pembiayaan pun senang, bagi hasil simpanan untuk nasabah pemegang kartu pun terjadi. Terbentuklah inner loop aliran antara nasabah pemegang kartu, nasabah pembiayaan, dan bank syariah.

Terus, apa dong fungsi kartu? Jawabannya: banyak. Inilah justru kunci percepataan inner loop tersebut. Dari sisi nasabah pemegang kartu akan memperoleh manfaat: pertama, kenyamanan berbelanja, tidak perlu repot membawa uang kas. Kedua, faktor keamanan, perlu pin atau tanda tangan atau pengaman lain sebelum menggunakan kartu tersebut. Ketiga, yang jelas lebih gaya dan stylish, terlebih saat menggesek kartu. Bagi nasabah pemilik usaha retail tidak perlu repot mengelola uang kas yang diterima, mengurangi potensi terslip bahkan hilang, serta tidak perlu menyetor ke bank. Ekstremnya, kalau ada yang ‘ngerampok’, khan uang kasnya tidak ada (atau minim), jadi nggak tekor-tekor amat. Bagi bank syariah, arus ini artinya pertumbuhan: pertumbuhan dana pihak ketiga yang tersimpan, pertumbuhan pembiayaan yang sehat, pertumbuhan kepastian pengembalian kredit pembiayaan, pertumbuhan pendapatan dari luar pos operasi inti bank (fee based income). Secara Nasional pun hal ini berdampak baik, BI tidak perlu repot-repot mencetak uang untuk kebutuhan masyarakat (ekstremnya), sebab transaksi dilakukan secara elektronik.

Hanya begini saja? Tunggu dulu, masih ada ‘pelumas’ yang bisa dipakai, yaitu insentif. Apa bentuknya? Kebanyakan nasabah yang berbelanja dengan kartu miliknya akan keberatan bila dikenakan biaya atau charge. Akan sangat berbahagia jika saat menggesek kartu, nasabah mendapatkan reward poin, diskon, atau tidak dikenakan charge biaya pun sudah bersyukur. Bila tidak dikenakan biaya, bank syariah menjadi rugi dong, sebab pendapatan fee menjadi hilang. Tunggu dulu, itulah perlunya insentif diletakkan secara tepat sehingga menjadi pelumas. Transaksi tanpa charge biaya bisa didapat asalkan kartu digunakan untuk berbelanja di usaha retail milik nasabah pembiayaan yang bersangkutan. Dengan demikian, kartu tidak akan sungkan-sungkan untuk digesek terus, transaksi pun berlipat. Meski tidak mendapat fee secara langsung, namun pembiayaan bank untuk nasabah pembiayaan berbuah manis. Nasabah pembiayaan happy usahanya berkah, bank syariah bisa tersenyum kredit pembiayaannya positif. Ujung-ujungnya nasabah pemegang kartu bisa tertawa, sebab dapat cipratan bagi hasil dari bank dengan nilai yang bersaing cenderung tinggi.

Dengan model ini, selain fungsi sebagai mediator pendanaan, perbankan syariah juga berperan sebagai pencipta ‘kelompok pembeli’ yang memiliki high puchasing power bagi usaha retail yang didanainya. Saya rasa tidak saja bidang usaha retail hal ini bisa diterapkan, namun bidang konsumsi lain pun terbuka peluang. Makin lama makin banyak dan membesar inner loop ini, akhirnya buntutnya akan menggairahkan sektor produksi barang untuk konsumsi.

Inner loop pun bisa diperluas dengan melibatkan peran sektor produksi untuk usaha retail konsumsi. Aktornya, bank syariah, usaha retail, dan usaha produksi untuk usaha retail. Polanya, usaha retail meminta suplai barang dari usaha produksi yang didanai bank syariah dengan iming-iming insentif tertentu, misal diskon suplai, kemudahan pembayaran, dan sebagainya. Muncullah inner loop ekstensi sebagai hasil bank syariah menciptakan ‘kelompok pembeli’ untuk sektor produksi. Inner loop ganda ini sungguh-sungguh akan memperkuat pondasi ekonomi bangsa secara berkelanjutan. Semoga perbankan syariah berperan aktif untuk mewujudkan hal ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: